Jatah Daging untuk Panitia Kurban

 


Dalam pelaksanaan ibadah kurban di masyarakat, peran panitia dan jagal (penyembelih) sangatlah krusial demi kelancaran proses penyembelihan hingga pendistribusian daging. Namun, dalam praktiknya sering kali muncul dinamika terkait hak-hak mereka. Mulai dari jagal yang meminta jatah kulit, hingga kebiasaan panitia menyisihkan daging untuk konsumsi internal atau dibawa pulang.
Bagaimanakah fikih madzhab Syafi'i memandang batasan hak panitia dan jagal ini agar ibadah kurban tetap sah dan berkah? Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Hak Panitia dan Jagal atas Daging atau Kulit Kurban

A. Hukum Jagal Meminta Jatah Khusus

Bagaimana hukumnya jika seorang panitia atau jagal meminta jatah daging atau kulit kurban tertentu secara khusus dengan alasan dialah yang menyembelih atau menguliti?
Hukum dalam masalah ini wajib diperinci berdasarkan akad atau status pemberiannya:
  • Haram (Tidak Boleh): Jika pemberian daging atau kulit kurban tersebut diposisikan sebagai upah (ongkos kerja). Bagian hewan kurban (daging, kulit, tulang, dsb.) sama sekali tidak boleh dijadikan alat pembayaran atas jasa jagal.
  • Boleh: Jika pemberian tersebut murni berupa hadiah atau sedekah (di luar komponen upah kerja).
Hal ini ditegaskan oleh Imam Al-Bajuri dalam Hasiyah Al-Bajuri, Jilid 2, hal 311:
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل 

B. Memberikan Upah Materi non-Kurban

Jika menjadikannya upah dilarang, apakah pihak yang berkurban (mudhahhi) atau pihak masjid wajib memberikan upah berupa uang atau materi non-kurban atas jasa mereka?
Secara syar'i, tidak ada kewajiban mutlak bagi panitia untuk mendapatkan upah dari orang yang berkurban atau masjid jika sifatnya sukarela. Namun, apabila menggunakan jasa profesional atau terdapat kesepakatan kerja (kontrak) sebelumnya, maka upah wajib diberikan. Uang upah tersebut harus diambil dari sumber yang bukan merupakan bagian dari hewan kurban, seperti:
  1. Kas panitia.
  2. Iuran operasional kurban (yang dikumpulkan di luar harga hewan).
  3. Donatur.
  4. Dana lain yang halal dan bukan bagian dari tubuh hewan kurban.
Hal ini sejalan dengan ibarat dalam Majmu’ Syarhil Muhadzab, Jilid 8, Halaman, 420:

كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره ولا يجوز جعل الجلد وغيره أجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك


2. Fasilitas Konsumsi untuk Internal Panitia

A. Memasak Daging Kurban Sebelum Pembagian Selesai

Bagaimana hukum panitia yang menyisihkan sebagian daging sebelum pembagian selesai untuk dimasak dan dimakan bersama oleh internal panitia?

Hukumnya diperbolehkan apabila berupa akad hadiyah lihat di Hasyiyah Bajuri, Jilid 2, Hallaman 311:
(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل

B. Menyisihkan Daging Sepihak untuk Dibawa Pulang

Bagaimana hukumnya jika ada oknum panitia yang menyisihkan daging secara sepihak untuk dibawa pulang sebagai jatah pribadi di luar pembagian resmi?
Hukum tindakan ini adalah tidak diperbolehkan (haram).
Secara konsep fikih, kedudukan panitia adalah sebagai wakil (*wakil tasharruf*) yang menerima kuasa penuh dari orang yang berkurban untuk mendistribusikan daging. Seorang wakil secara hukum tidak boleh bertindak atau mengambil keputusan sepihak di luar batasan izin yang diberikan oleh pemberi kuasa (muwakkiil).
Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Muhadzab fii Fiqhi Imam Asy-Syafii, Jilid 2, Halaman  166:
صل: ولا يملك الوكيل من التصرف إلا ما يقتضيه إذن الموكل من جهة النطق أو
من جهة العرف لأن تصرفه بالإذن فلا يملك إلا ما يقتضيه الإذن والإذن يعرف بالنطق وبالعرف فإن تناول الإذن تصرفين وفي أحدهما إضرار بالموكل لم يجز ما فيه إضرار لقوله ﷺ: «لا ضرر ولا إضرار» فإن تناول تصرفين وفي أحدهما نظر للموكل لزمه مافيه نظر للموكل لما روى ثوبان مولى رسول الله ﷺ قال: قال رسول الله ﷺ: «رأس الدين النصيحة قلنا يارسول الله لمن؟ قال: لله ورسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وللمسلمين عامة١» وليس من النصح أن يترك ما فيه الحظ والنظر للموكل
Jika tindakan sepihak ini tetap nekat dilakukan oleh oknum panitia, maka perbuatan tersebut masuk ke dalam kategori:
1. Pelanggaran amanah yang berat.
2. Tindakan tanpa izin yang tidak sah.
3. Bahkan dapat dikategorikan sebagai ghulul (penggelapan amanah/korupsi).

Kesimpulan

Prinsip utama dalam kepanitiaan kurban adalah amanah. Jagal wajib diupah dengan uang atau materi di luar hewan kurban, sedangkan segala bentuk konsumsi atau pemberian daging kepada panitia harus berlandaskan asas kerelaan (izin) dari pemilik kurban dan berstatus sebagai sedekah/hadiah, bukan hak tuntutan atas pekerjaan mereka.
Wallahu a'lam bisshawab.
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama